BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pada umumnya serangga mempunyai kisaran inang tertentu. Kisaran inang merupakan ragam jenis tumbuhan dari suatu spesies serangga fitofag. Kisaran inang suatu serangga dapat menunjukkan seberapa banyak tanaman yang dapat di makan oleh serangga tersebut.. Kisaran inang suatu serangga dapat luas ataupun sempit tergantung serangganya.. Pengelompokan serangga fitofag berdasarkan kisaran tumbuhan inang terdapat 3 macam yaitu: monofag, oligofag, dan polifag.  Serangga monofag hidup dan makan hanya pada satuatau beberapa spesies dalam satu famili tertentu. Serangga oligofag hidup dan makan pada berapa spesies dalam satu famili. Sedangkan serangga polifag hidup dan makan pada beberapa spesies tumbuhan pada berbagai famili.

Erionota thrax dikenal sebagai serangga penggulung daun pisang dan merupakan hama penting pada tanaman pisang. Serangga ini hanya dapat dijumpai pada tanaman famili Musaceae dan belum pernah ditemukan apakah mempunyai tanaman inang lainnya ( Marwoto, 2001 ). Akibat serangan yang cukup tinggi, menyebabkan semua daun tanaman habis dimakan sehingga tinggal tulang-tulang daun yang bergantungan, sehingga serangga tersebut digolongkan sebagai hama utama tanaman pisang.
Daun yang diserang ulat biasanya digulung, sehingga menyerupai tabung dan apabila dibuka akan ditemukan ulat di dalamnya. Ulat yang masih muda memotong tepi daun secara miring, lalu digulung hingga membentuk tabung kecil. Di dalam gulungan tersebut ulat akan memakan daun. Apabila daun dalam gulungan tersebut sudah habis, maka ulat akan pindah ke tempat lain dan membuat gulungan yang lebih besar. Apabila terjadi serangan berat, daun bisa habis dan tinggal pelepah daun yang penuh dengan gulungan daun.

Crocidolomia binotalis merupakan salah satu jenis hama yang menimbulkan masalah penting pada pertanaman kubis.  Serangga ini dikenal juga sebagai hama yang sangat rakus dan larva terutama memakan daun-daun yang masih muda, tetapi juga dapat menyerang daun yang agak tua dan kemudian menuju kebagian titik tumbuh sehingga bagian titik tumbuh habis, akibatnya pembentukan krop akan terhambat atau terhenti.  Kerusakan yang ditimbulkannya dapat menurunkan hasil sampai 100% ( Pathax , 2001).

Penggerek tongkol Helicoverpa armigera adalah serangga polifag yang menyerang beberapa komoditi tanaman seperti kacang gude, kapas, sorgum, tomat, tembakau, kacang tanah dan jagung ( Redsway T.D. Maramis   ,2005 ). Redsway, melaporkan bahwa serangga ini merupakan hama utama dari tanaman jagung. Gejala serangan ulat penggerek tongkol dimulai pada saat pembentukan kuncup bunga, bunga dan buah muda. Larva masuk ke dalam buah muda dan memakan biji-biji jagung, karena larva hidup di dalam buah, biasanya serangan serangga ini sulit diketahui dan sulit dikendalikan dengan insektisida ( Marwoto dkk. 2001 ).

Gejala yang ditimbulkan oleh serangan larva Helicoverpa armigera antara lain serangan pada kuncup buah jagung yang masih muda rusak dan apabila seludangnya dibuka didalamnya ditemukan ulat. Bagian dari biji-biji jagung yang sudah terserang ulat tersebut menjadi hampa. Biji hampa dalam keadaan seludang terbuka memudahkan terkontaminasi jamur sehingga menjadi busuk.

  1. Tujuan

Mengetahui kisaran inang dari beberapa larva Lepidoptera. Selain itu juga mengamati gejala kerusakan yang ditimbulkan dari serangga fitofag.

BAB II

BAHAN DAN METODE

  1. Bahan

Bahan-bahan dan alat yang diperlukan dalam percobaan kisaran inang ini antara lain: larva Erionota thrak (Lep.: Hesperiidae), larva Crocidolomia binotalis (Lep.:Pyralidae), larva Helicoverpa armigera (Lep.: Noctuidae), Daun pisang ( Musaceae ), Daun kangkung ( Ipomoeaceae ), Daun talas ( Colocaceae ), Daun caisin ( Cruciferae ), Daun brokoli ( Cruciferae ), Jagung semi/ baby corn ( Poaceae ), Buah tomat ( Solanaceae ), Kertas alas, Kertas label, Cawan petri/ wadah plastik, Kuas kecil,dan gunting.

  1. Metode

Metode yang digunakan pada percobaan kisaran inang adalah sebagai berikut: Langkah pertama disiapkan wadah untuk perlakuan. Inang berupa daun digunakan cawan petri, sedangkan inang jagung dan buah tomat digunakan wadah plastik. Setelah itu kertas alas digunting dengan ukuran dasar wadah dan diletakkan di dasar wadah sebagai alas. Setelah itu kertas alas dilembabkan dengan meneteskan air namun tidak sampai terlalu basah. Kemudian daun-daun untuk percoban disiapkan masing-masing 5 cm x 5 cm sedangkan untuk jagung panjang 3 cm, untuk tomat dan kedelai satu buah.

Kemudian daun-daun, tongkol jagung, buah tomat atau kedelai tersebut di letakkan di dalam wadah, Satu wadah diisi dengan satu daun/ buah/ polong, dengan tiga perlakuan, yaitu: Perlakuan 1 dengan larva E. Tharx dengan inang daun pisang, daun kangkung, daun talas. Perlakuan 2 dengan larva C. binotalis dengan inang daun Caisin, daun brokoli, dan daun talas. Perlakuan 3 dengan larva H. armigera dengan inang tongkol jagung semi, bauh tomat, dan buncis. Setelah larva dimasukkan dalam wadah dan ditutup, kemudian larva tersebut dilaparkan selama 24 jam. Lalu, diamati apakah daun dimakan atau tida, jumlah luasan daun yang dimakan untuk setiap perlakuan. Setelah itu dibuat kelompok serangga monofag, oligofag, dan polifag.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

1) Hasil Pengamatan Data kelompok 4

Serangga Inang Bagian yang dikonsumsi
Erionota thrax Kangkung = 1,04%
Erionota thrax Daun Pisang = 4%
Erionota thrax Daun Talas
Crocidolomia binotalis Brokoli
Crocidolomia binotalis Caisin
Crocidolomia binotalis Talas Tidak ada yang dimakan(0%)
Helicoverpa armigera Tomat 28,9%
Helicoverpa armigera Jagung
Helicoverpa armigera Buncis

Keterangan:

Cara menghitung persen yang dimakan:

Bagian daun atau buah yang dimakan   X 100 %

Luasan daun atau buah utuh

2) Ulangan Data Kelas

Serangga Inang

Presentase bagian tanaman yang dikonsumsi

Pada ulangan ke-

1 2 3 4 5 6
Erionota thrax Kangkung 0,10% 0% 2% 1,04% 0% 2%
Erionota thrax Daun Pisang 0,42% 0% 40% 4% 5% 0,01%
Erionota thrax Daun Talas 0,50% 0,10% 0% 0,12% 0% 0,01%
Crocidolomia binotalis Brokoli 60,0% 6,14% 1,3% 7,84% 40% 50%
Crocidolomia binotalis Caisin 2,72% 26,72% 1,3% 1,36% 60% 50%
Crocidolomia binotalis Talas 0% 0,30% 0,5% 0% 0% 0,0%
Helicoverpa armigera Tomat 40% 25,00% 40% 28,9% 30% 0%
Helicoverpa armigera Jagung 0% - 13% 10,4% 20% 30%
Helicoverpa armigera Buncis 90% 90% 2,1% 39,2% 80% 99%

3) Hasil Penghitungan Rataan Menggunakan Data Kelas

Serangga Inang

Bagian yang dikonsumsi
Erionota thrax Kangkung = 1,69%
Erionota thrax Daun Pisang = 8,23%
Erionota thrax Daun Talas
Crocidolomia binotalis Brokoli
Crocidolomia binotalis Caisin
Crocidolomia binotalis Talas
Helicoverpa armigera Tomat
Helicoverpa armigera Jagung
Helicoverpa armigera Buncis

Keterangan:

Cara menghitung persen yang dikonsumsi untuk ulangan:

Jumlah keseluruhan inang yang dikonsumsi   X 100 %

6 ( Ulangan )

Gambar Literatur :

www.butterflypals.com

Erionanta thrax

www.viarural.com.ar

Helicoverpa armigera

www.infonet-biovision.org

Crocidolomia binotalis

4) Pembahasan

Pada dasarnya, serangga mempunyai kisaran inang tertentu. Kisaran inang itu merupakan ragam jenis tumbuhan dari suatu spesies serangga fitofag. Kisaran inang suatu serangga dapat menunjukkan seberapa banyak tanaman yang dapat di makan oleh serangga tersebut. Kisaran inang suatu serangga dapat luas ataupun sempit tergantung serangganya.

Berdasarkan percoban pertama yaitu menggunakan larva Erionota thrax yang diuji cobakan menggunakan daun kangkung ( Ipomoea aquatica forsk. ) Famili: Ipomoeaceae menunjukkan bahwa daun yang dikonsumsi sebesar 1,69 %, pada daun pisang Famili: Musaceae sebesar 8,23 % sedangkan pada daun talas famili Colocaceae sebesar 0,135 %. Berdasarkan hasil praktikum menandakan bahwa serangga Erionota thrax khususnya pada stadium larva merupakan Monofag
( hidup dan makan hanya pada satu atau beberapa spesies dalam satu famili tertentu ). Erionota thrax dikenal sebagai serangga penggulung daun pisang dan merupakan hama penting pada tanaman pisang. Serangga ini hanya dapat dijumpai pada tanaman famili Musaceae dan belum pernah ditemukan apakah mempunyai tanaman inang lainnya           ( Redsway T.D. Maramis   ,2005 ).

Pada percobaan kedua yaitu menggunakan larva Crocidolomia binotalis yang diuji cobakan pada Brokoli, Famili : Cruciferae   menunjukkan bahwa daun yang dikonsumsi sebesar 30,97 %. Sedangkan pada Caisin, Famili : Cruciferae menunjukkan bahwa daun yang dikonsumsi sebesar 20,25 %. Pada daun Talas, Famili: Colocaceae menunjukkan bahwa daun yang dikonsumsi sebesar 0,086 %. Berdasarkan hasil praktikum menandakan bahwa serangga Crocidolomia binotalis khususnya pada stadium larva merupakan Oligofag ( hidup dan makan pada berapa spesies dalam satu famili ).

Pada percobaan ketiga yaitu menggunakan larva Helicoverpa armigera yang diuji cobakan pada Tomat, Famili : Solanaceae  menunjukkan bahwa buah yang dikonsumsi sebesar 27,31%. Sedangkan pada Buncis, Famili : Leguminosae menunjukkan bahwa daun yang dikonsumsi sebesar 66,7 % Pada daun Jagung semi, Famili: Poaceae menunjukkan bahwa daun yang dikonsumsi sebesar 13,9 %. Berdasarkan hasil praktikum menandakan bahwa serangga Helicoverpa armigera khususnya pada stadium larva merupakan Polifag ( hidup dan makan pada berapa spesies pada berbagai famili ).

Pada beberapa ulangan terdapat inang jagung dan tomat yang sama sekali tidak dikonsumsi oleh larva. Hal ini dapat disebabkan pada inang jagung dan tomat berubah dari stadium larva menjadi stadium pupa. Hal ini lebih membuktikan bahwa Helicoverpa armigera sangat menyukai inang yang diberikan. Pada dasarnya, penggerek tongkol Helicoverpa armigera adalah serangga polifag yang menyerang beberapa komoditi tanaman seperti kacang gude, kapas, sorgum, tomat, tembakau, kacang tanah dan jagung ( Redsway T.D. Maramis   ,2005 ).Redsway melaporkan bahwa serangga ini merupakan hama utama dari tanaman jagung.

BAB IV

KESIMPULAN

Umumnya serangga mempunyai kisaran inang tertentu. Kisaran inang suatu serangga dapat menunjukkan seberapa banyak tanaman yang dapat di makan oleh serangga tersebut.. Kisaran inang suatu serangga dapat luas ataupun sempit tergantung serangganya.. Berdasarkan hasil praktikum menandakan bahwa serangga Erionota thrax khususnya pada stadium larva merupakan Monofag
( hidup dan makan hanya pada satu atau beberapa spesies dalam satu famili tertentu ). Karena inang yang paling banyak dikonsumsi adalah pisang, sedangkan inang yang lain hanya sedikit sekali apalagi pada daun alas. Erionota thrax dikenal sebagai serangga penggulung daun pisang dan merupakan hama penting pada tanaman pisang. Pada Crocidolomia binotalis khususnya pada stadium larva merupakan Oligofag ( hidup dan makan pada berapa spesies dalam satu famili ). Serangga ini makan daun dari famili Cruciferae. Pada Helicoverpa armigera khususnya pada stadium larva merupakan Polifag ( hidup dan makan pada berapa spesies pada berbagai famili ). Ulat penggerek tongkol Helicoverpa armigera jika menyerang tongkol jagung maka jika seludangnya dibuka didalamnya ditemukan ulat. Bagian dari biji-biji jagung yang sudah terserang ulat tersebut menjadi hampa. Sedangkan pada buncis yang dimakan adalah bagian biji di dalamnya.

BAB V

DAFTAR PUSTAKA

Marwoto, Suharsono dan Bejo, 2001. Pengendalian Hama Terpadu Pada Budidaya Kedelai. Buletin Palawija. Jurnal Tinjauan Ilmiah. Penelitian Tanaman Palawija. No. 1-2001.Balaitkabi-Malang. Hal. 15-23.

Pathak, V.N.2001. Diseases of fruit Crops. Oxford and IBH Publ.Co., New Delhi, 309 hal.345

Redsway T.D. Maramis   ,2005. http://tumoutou.net/3_sem1_012/trizelia.htm, diakses tanggal 5 April 2009.

LIianika, 2009. www.butterflypals.com, diakses tanggal 5 April 2009.

Gustilin,2008. www.infonet-biovision.org, diakses tanggal 5 April 2009.

Lujit,kuiiinj,2009. www.viarural.com.ar, diakses tanggal 5 April 2009.

Pemuliaan ketahanan padi terhadap tungro adalah salah satu tujuan utama dari program pemuliaan padi di Indonesia. Studi awal diarahkan untuk mengembangkan varietas padi dengan tipe tanaman yang baik, hasil tinggi, dan tahan terhadap vector wereng hijau (GLH). Dalam kegiatan terakhir, tujuan pemuliaan adalah merumuskan kembali untuk mempertimbangkan dua ciri tambahan: kualitas bijin dan ketahanan terhadap virus tungro. Sebuah program hibridisasi yang melibatkan beberapa kultivar dengan hasil tinggi, tipe tanaman baik, kualitas gabah yang bagus, dan tahan terhadap virus tungro telah dilaksanakan. Dari kegiatan awal, beberapa padi varietas unggul dengan ketahanan terhadap GLH telah dirilis. Hasil pendahuluan dari studi ini menunjukkan bahwa 2.296 aksesi memiliki ketahanan yang kuat terhadap virus tungro. Berdasarkan berbagai tingkat infeksi tungro pada populasi silang tunggal, terlihat bahwa Uṭrī Merah, Tjempo Kijik, Seratus Hari T36, dan M1085c-10-1 adalah donor yang efektif untuk ketahanan terhadap  tungro. Membramo adalah combiner terbaik dari kultivar donor, dengan hasil tinggi dan kualitas gabah sangat baik. Reaksi galur lanjutan terhadap infeksi tungro bervariasi sesuai dengan tekanan penyakit dan populasi vektor di daerah tersebut.

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Tumbuhan tidak selamanya bisa hidup tanpa gangguan. Kadang tumbuhan mengalami gangguan oleh binatang atau organisme kecil (virus, bakteri, atau jamur). Hewan dapat disebut hama karena mereka mengganggu tumbuhan dengan memakannya. Belalang, kumbang, ulat, wereng, tikus, walang sangit merupakan beberapa contoh binatang yang sering menjadi hama tanaman.

Pembasmi hama dan penyakit menggunakan pestisida dan obat harus secara hati – hati dan tepat guna. Pengunaan pertisida yang berlebihan dan tidak tepat justru dapat menimbulkan bahaya yang lebih besat. Hal itu disebabkan karena pestisida dapat menimbulkan kekebalan pada hama dan penyakit. Oleh karena itu pengguna obat – obatan anti hama dan penyakit hendaknya diusahakan seminimal dan sebijak mungkin. Sebagai alternative pengendalian tanpa menggunakan bahan kimia yaitu dengan menggunakan Sticky trap. Sticky trap dalam fungsinya sebagai pengendali hama untuk menekan populasi hama sebenarnya tidak terlalu efektif . Sticky trap biasanya dingunakan untuk monitoring yaitu untuk mengetahui jenis hama yang menyerang lahan.

Pada serangga, mata tunggal atau oseli dan mata majemuk atau omatidia merupakan alat penerima rangsangan cahaya. Mata tunggal punya lensa kornea tunggal sedangkan mata majemuk punya banyak omatidium yang dilapisi dengan lensa kornea segi enam. Mata tunggal berfungsi untuk membeda-bedakan intensitas cahaya yang diterima. Sedangkan mata majemuk berfungsi sebagai pembentuk bayangan yang berupa mozaik. Pada dasarnya, serangga banyak yang buta warna. Tetapi tidak sedikit yang dapat membedakan warna. Sehingga preferensi terhadap warna berbeda-beda pula. Seperti contoh lebah madu dapat membedakan warna kuning dan biru tetapi tidak bisa melihat warna merah. Berbeda dengan kutu daun bersayap ataupun lalat pengorok tertarik pada warna kuning.

  1. Tujuan

Menggunakan sticky trap warna kuning, merah, hijau, biru, dan putih untuk melakukan pemantauan populasi hama tanaman rosela guna menentukan sebaran dan aktivitas kehidupan hariannya terutama pengamatan preferensi warna yang disukai oleh serangga pada tanaman rosela..

BAB II

BAHAN DAN METODE

  1. 1. Alat dan Bahan

Bahan dan alat yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu sticky trap berwarna merah, kuning, hijau, biru, dan putih; plastik pelapis sticky trap berukuran 2x(25×10); plastik pelindung pelindung sticky trap; kantung plastik tempat sticky trap; lem pelekat transparan; penjepit; ajir bambu; label; pertanaman Rosella.

  1. 2. Metode

Metode yang digunakan untuk praktikum kali ini yaitu pertama, sticky trap dibuat terlebih dahulu dari karton plastik berukuran 25×10  dan diberi gantungan kawat kecil, kemudian plastik sticky trap diolesi lem tipis dengan cara plastik yang berlem ditempelkan pada plastik yang belum diberi lem berulang-ulang hingga diperoleh plastik dengan lapisan lem tipis, selanjutnya plastik berlem dilapiskan pada setiap karton warna dan dijepit dengan paper clip, lalu diberi identitas, kemudian sticky trap dipasang di pertanaman Rosella dengan jarak antar sticky trap 2-3 m atau disesuaikan dengan keadaan lahan.

Peletakan ragam warna dilakukan sistem acak, sedangkan untuk ketinggian diatur tepat setinggi tajuk pertanaman, sticky trap dipasang selama 24 jam di pertanaman, setelah 24 jam sticky trap yang telah penuh ditempeli serangga segera ditutup permukaannya dengan plastik pelindung agar serangga yang ada tidak rusak, kemudian plastik berperekat yang telah ditutupi plaatik pelindung segera dilepaskan dari karton warna, diberi label, lalu dimasukkan ke dalam kantung plastik untuk dibawa ke laboratorium, diusahakan serangga yang ada tetap utuh agar memudahkan untuk identifikasi, untuk identifikasi digunakan kaca pembesar atau mikroskop stereo hingga tingkat famili, untuk serangga yang sulit diidentifikasi hingga tingkat famili maka cukup diketahui ordonya saja, untuk penggunaan mikroskop harus hati-hati supaya terhindar dari lem pada sticky trap, selanjutnya serangga yang terperangkap pada setiap warna sticky trap dihitung dan dicatat.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

1) Data Kelompok 4 pada Tanaman Rosella

Warna

Sticky trap

Jumlah Serangga Hasil Identifikasi
1. Putih 43
  1. a. Ordo  : Diptera

Famili: Agromyzidae, Culicidae, Muscidae,  Tephritidae.

b. Ordo  : Hymenoptera

Famili: Chalcididae, Braconidae

c. Ordo  : Hemiptera

Famili: Aphididae, Cicadellidae (wereng   daun hijau), Aleyrodidae

2. Kuning 16 a. Ordo  : Diptera

Famili: Agromyzidae, Culicidae

b. Ordo  : Hymenoptera

Famili: Chalcididae, Formicidae

c. Ordo  : Hemiptera

Famili: Aphididae, Cicadellidae

3. Merah 41 a. Ordo  : Diptera

Famili: Muscidae, Agromyzidae

b. Ordo  : Hymenoptera

Famili: Braconidae, Chalcididae

c. Ordo  : Hemiptera

Famili: Aphididae

4. Hijau 35 a. Ordo  : Diptera

Famili: Culicidae, Muscidae,  Tephritidae.

b. Ordo  : Hymenoptera

Famili: Chalcididae

c. Ordo  : Hemiptera

Famili: Cicadellidae, Aphididae

d. Ordo : Coleoptera

Famili: Coccinellidae

5. Biru 14 a. Ordo  : Diptera

Famili: Formicidae, Culicidae

b. Ordo  : Hymenoptera

Famili: Ichneumonidae

c. Ordo   : Hemiptera

Famili: Aphididae

2) Akumulasi Data Serangga yang Terperangkap pada Sticky Trap

Inang Ordo Sticky Trap
Kuning Biru Putih Hijau Merah
Kacang kedelai

(Fabaceae)

Hymenoptera

Hemiptera

Diptera

3

100

67

-

15

6

-

12

7

1

-

40

2

27

7

Terong

(Solanaceae)

Hymenoptera

Hemiptera

Diptera

Thysanoptera

2

57

5

-

9

10

7

-

4

25

1

-

1

15

2

3

11

11

3

-

Jagung

(Poaceae)

Hymenoptera

Hemiptera

Diptera

Thysanoptera

Coleoptera

Orthoptera

9

20

13

15

2

1

7

2

14

24

0

-

1

-

4

6

1

-

6

14

7

10

3

-

3

2

3

4

3

-

Kangkung

(Ipomoeaceae)

Hymenoptera

Hemiptera

Diptera

Coleoptera

Predator

50

23

25

-

-

15

-

4

-

-

25

17

10

-

-

14

15

9

5

1

20

-

17

-

-

Kacang Panjang Hymenoptera

Hemiptera

Diptera

Coleoptera

Acarina

3

54

2

-

-

2

9

1

1

1

1

3

7

-

-

-

11

7

1

-

1

2

8

2

-

serangga yang terperangkap Sticky Trap

467

140

167

178

165

Gambar Literatur :

Sticky trap warna kuning

www.infonet-biovision.org

3) Pembahasan

Serangga mempunyai dua alat penerima rangsang cahaya yaitu mata tunggal (oseli) dan mata majemuk (omatidia). Mata tuggal mempunyai lensa kornea tunggal sedangkan mata majemuk terdiri dari banyak omatidium yang dilapisi dengan lensa kornea segi enam. Mata tunggal berfungsi untuk membedakan intensitas cahaya yang diterima, sedangkan mata majemuk berfungsi sebagai pembentuk bayangan yang berupa mozaik.  Banyak serangga yang buta warna, namun banyak pula yang dapat membedakan warna sehingga preferensinya berbeda pula terhadap warna. Seperti contoh, lebah madu dapat membedakan warna biru dan kuning dan tidak dapat melihat warna merah; kutu kebul, kutu daun bersayap, lalat pengorok daun tertarik pada warna kuning. Serangga dapat membedakan warna-warna kemungkinan karena adanya perbedaan pada sel-sel retina pada mata serangga. Kisaran panjang gelombang yang dapat diterima serangga adalah 2540-6000 A (Gustilin,2008)

Preferensi terhadap warna dengan menggunakan Sticky trap sering dimanfaatkan dalam monitoring serangga. Sticky trap ada yang berbentuk silinder atau persegi empat. Warna yang digunakan biasanya disesuaikan dengan serangga yang akan diamati. Kegunaan sticky trap bisa menekan populasi hama, namun tidak terlalu efektif. Warna yang disukai serangga biasanya warna-warna kontras seperti kuning cerah. Keunggulan dari penggunaan perangkap warna ini adalah murah, efisien juga praktis. Prinsip kerjanya Sticky trap tidak jauh berbeda dengan perangkap cahaya dimana serangga yang datang pada tanaman dialihkan perhatiannya pada perangkap warna yang dipasang.  Serangga yang tertarik perhatiannya dengan warna tersebut akan mendekati bahkan menempel pada warna tersebut. Bila pada obyek warna tersebut telah dilapisi semacam lem, perekat atau getah maka serangga tersebut akan menempel dan mati (Southwood.T.R.E, 1978).

Pada percobaan kali ini, serangga paling banyak terperangkap pada sticky trap berwarna putih antara lain, yaitu Ordo: Diptera, Famili: Agromyzidae, Muscidae, Culicidae, Tephritidae; Ordo: Hymenoptera, Famili: Chalcididae, Braconidae; Ordo: Hemiptera, Famili: Aphididae, Chicadellidae (wereng   daun hijau), Aleyrodidae. Pada sticky trap berwarna merah antara lain, yaitu Ordo: Diptera Famili: Liriomyza; Ordo: Hymenoptera; Famili: Braconidae; Ordo: Hemiptera Famili: Aphididae.  Pada sticky trap berwarna hijau antara lain, yaitu Ordo: Diptera, Famili: Culicidae, Muscidae, Tephritidae; Ordo: Hymenoptera, Famili: Chalcididae; Ordo: Hemiptera, Famili: Cicadellidae, Aphididae; Ordo: Coleoptera, Famili: Coccinellidae Pada sticky trap berwarna biru antara lain Ordo: Diptera, Famili: Formicidae, Culicidae; Ordo: Hymenoptera, Famili: Ichneumonidae; Ordo: Hemiptera, Famili: Aphididae. Sedangkan,  pada sticky trap berwarna kuning antara lain, yaitu Ordo: Diptera Famili: Agromyzidae, Culicidae; Ordo: Hymenoptera, Famili: Chalcididae, Formicidae; Ordo: Hemiptera Famili: Aphididae, Cicadellidae.

Berdasar literature, serangga-serangga tersebut seharusnya paling banyak terperangkap pada sticky trap berwarna kuning (Naryanta, 1999). Namun, karena sticky trap berwarna kuning tersebut jatuh yang kemungkinan disebabkan oleh angin, tekstur tanah, atau faktor lingkungan lainnya, maka serangga yang terperangkap paling sedikit diantara sticky trap lainnya . Selain itu, sticky trap berwarna kuning tersebut diletakkan terlalu pinggir dari letak yang telah ditentukan.  Pada sticky trap berwarna biru jumlah serangga yang tertangkap hanya sedikit karena peletakan sticky trap yang kurang strategis yaitu pada bagian pinggir, sehingga memungkinkan populasi serangga sedikit. Berdasarakan literature sticky tarp berwarna kuning, biru, dan putih lebih efektif untuk memonitoring serangga (Dendt, D. 1995).

Sticky trap berwarna putih, serangga yang didapat paling banyak dibanding warna yang lain karena peletakkan sticky trap yang strategis yaitu berada di tengah lahan  tanaman Rosela , sedangkan factor lain yang mempengaruhi adalah ketinggian dari sticky trap yang sesuai dengan tinggi tajuk tanaman, sehingga kemungkinan serangga banyak yang terperangkap. Sticky trap warna yang lain seperti warna merah dan hijau kurang efektif dalam fungsinya sebangai monitoring serangga karena dipengaruhi oleh kemampuan serangga yang berbeda-beda dalam menangkap Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan diperoleh data bahwa Aphididae , Agromyzidae, dan Cicadellidae paling banyak ditemukan karena kedua serangga tersebut memang hama pada tanaman Rosela. Terutama pada Aphididae ditemukan paling banyak diantara serangga-seranggalainnya. Lalat pengorok daun, Liriomyza sp. famili Agromyzidae termasuk serangga polifag yang dikenal sebagai hama utama pada tanaman sayuran dan hias di berbagai negara (Dianta, 2009).

Berdasarkan akumulasi data serangga yang terperangkap pada sticky trap,

membuktikan bahwa sticky trap yang paling efektiv dalam memonitoring serangga pada berbagai inang sample adalah sticky trap bewarna kuning kemudian hijau, dan putih. Hal ini tidak sesuai dengan literature yang menyatakan bahwa sticky trap yang paling disukai oleh serangga adalah warna kuning, biru, dan putih (Dendt, D. 1995). Hal ini dapat diperkirakan bahwa terdapat kesalahan pada mekanisme peletakan sticky trap yang terlalu pinggir, ataupun kesalahan pada pemasangan sticky trap yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dari tajuk tanaman, dan faktor-faktor lain yang belum kami ketahui.

BAB IV

KESIMPULAN

Setiap serangga memiliki kemampuan dalam menangkap warna dengan panjang gelombang yang berbeda-beda. Kisaran panjang gelombang yang dapat diterima serangga adalah 2540-6000 A (Gustilin,2008). Pada umumnya, Sticky trap yng paling efektiv untuk monitoring adalah warna kuning, biru, dan putih. Hal ini bertentangan dengan hasil pengamatan yang membuktikan bahwa Sticky trap warna kuning, hijau, dan putih mendominasi. ). Hal ini dapat diperkirakan bahwa terdapat kesalahan pada mekanisme peletakan sticky trap yang terlalu pinggir, ataupun kesalahan pada pemasangan sticky trap yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dari tajuk tanaman, dan faktor-faktor lain yang belum kami ketahui.

BAB V

DAFTAR PUSTAKA

Southwood.T.R.E. 1978. Ecological methods. With particular reference to the study of insect populations. The ELBS and Chap-men and Hall. London.

Naryanta. 1999. Efektivitas penangkapan sticky trap dengan variasi bantuk dan warna pada lalat pengorok daun bawang putih, Liriomyza sp (Dipt: Agromyzidae). Skripsi S-1, Fakultas Pertanian UNS. Surkakarta.

Dendt, D. 1995. Principles of integrated pest management. Pp: 8-46 in D. Dent (ed). Integrated Pest Management. Chapman & Hall. London.

Dianta, 2009. http://digilib.unila.ac.id/files/disk1/4/laptunilapp-gdl-res-2006-purnomo-180-2001_lp_-1.pdf, diakses tanggal 10 April 2009

Gustilin,2008. www.infonet-biovision.org, diakses tanggal 5 April 2009.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Wereng coklat adalah hama yang mampu beradaptasi dengan berbagai lingkungan pada waktu yang cepat bahkan bisa menghasilkan populasi baru (biotipe) dalam waktu singkat. Wereng coklat juga mampu melemahkan kerja insektisida yang dianggap ampuh mengatasi hama ini sebelumnya. Dengan sifat-sifat yang dimilikinya, hingga kini tidak mudah untuk mengatasinya. Pola perkembangan hama ini bersifat Biological Clock, artinya wereng coklat dapat berkembang biak dan merusak tanaman padi disebabkan lingkungan yang cocok, baik dimusim hujan maupun musim kemarau. Penanaman padi yang terus menerus dengan menggunakan varietas yang sama dengan memiliki gen tahan tunggal juga dituding dapat mempercepat timbulnya biotipe baru wereng coklat.

Salah satu hambatan dalam menaikkan produksi beras di Indonesia adalah serangan hama wereng coklat (Nilaparvata lugens). Wereng coklat secara langsung merusak tanaman padi karena nimfa dan imagonya mengisap cairan sel tanaman sehingga tanaman kering dan akhirnya mati. Kerusakan secara tidak langsung terjadi tanaman padi muda terserang, menjadi berwarna kuning, pertumbuhan terhambat dan tanaman kerdil karena serangan penyakit virus kerdil rumput dan kerdil hampa yang ditularkannya. Kerusakan berat yang disebabkan oleh wereng coklat terkadang ditemukan pada persemaian. Serangan yang parah keseluruhan tanaman menjadi putih, kering dan mati, perkembangan akar merana dan bagian bawah tanaman yang terserang menjadi terlapisi oleh jamur, yang berkembang pada sekresi embun madu serangga. Sebagian besar menyerang pada saat tanaman padi masak menjelang panen bahkan mampu menimbulkan kerusakan hebat pada tanaman padi bahkan dapat menyebabkan puso. (J. Bawolye .2006.)

1.2 Tujuan

Mengetahui respon tanaman terhadap serangan hama dan melihat ketertarikan hama terhadap suatu varietas tanaman. Menghitung dan mengamati jumlah populasi perkembangbiakkan pada wereng coklat. Membandingkan kapasitas tanaman padi yang berbeda varietas untuk meninjau ketahanan varietas tanaman padi dan perkembangbiakkan wereng coklat.

BAB II

BAHAN DAN METODE

2.1  Bahan dan Alat

Bahan dan alat yang digunakan antara lain adalah tanaman padi dalam pot berumur sekitar 4minggu setelah tanam dengan 3 macam varietas padi yang beragam yaitu varietas tahan (PTB 33), varietas sedang (IR 64), varietas rentan (TN 1), nimfa instar 4(akhir) wereng coklat (Nilaparvata lugens), kurungan plastik berkasa, kayu berukuran kecil sebanyak 6 buah untuk menahan kurungan plastik, aspirator, dan kertas label.

2.2  Metode

Pertama-tama tanaman padi dengan tiga varietas yang telah disediakan dihitung jumlah helai daunnya dalam tiap pot. Pengambilan nimfa wereng coklat dilakukan dengan menggunakan selang aspirator. Kemudian nimfa wereng coklat dimasukkan ke dalam masing-masing pot (berisi 6 wereng coklat per pot). Permukaan atas tanaman padi diratakan sesuai ukuran kurungan plastik kasa agar memudahkan menutup pot.

Pada sisi samping kanan dan kiri diberi kayu penopang agar plastik  tidak terlepas dari pot dan menjaga agar wereng coklat tidak keluar dari pot. Pemberian label yang berisikan keterangan nama kelompok, varietas padi, dan tanggal infestasi nimfa wereng coklat. Pengamatan setiap hari dijaga agar air tetap tersedia dan tanaman padi tidak kering. Pengamatan terus dilakukan selama kurun waktu 3 minggu.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Tabel 1. Data Resistensi Tanaman

Kelompok Varietas Jumlah wereng coklat Keterangan Tanaman
Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3
1 PTB 33 5 13 8 Hidup
IR 64 2 9 5 Kering
TN 1 3 5 2 Sangat kering (mati)
2 PTB 33 7 - Hidup
IR 64 8 7 Kering (mati)
TN 1 7 3 Kering (mati)
3 PTB 33 - 6 Hidup
IR 64 - 8 Kering
TN 1 10 12 Sangat kering (mati)
4 PTB 33 3 5 2 Hidup
IR 64 5 45 5 Kering
TN 1 5 55 Mati
5 PTB 33 4 3 Hidup
IR 64 4 3 Kering
TN 1 3 3 2 Kering
6 PTB 33 7 - Hidup
IR 64 10 3 Kering (masih ada daun yang hijau)
TN 1 12 4 Sangat kering
7 PTB 33 6 10 7 Hidup
IR 64 5 6 4 Agak kering
TN 1 8 8 5 Sangat kering (mati)
8 PTB 33 - - Hidup
IR 64 3 3 5 Agak kering
TN 1 5 7 8 Kering
9 PTB 33 5 3 2 Hidup (hanya 1batang yang mati)
IR 64 10 12 16 Kering (batang menguning)
TN 1 8 10 8 Mati
10 PTB 33 - - 33
IR 64 2 - 64
TN 1 5 1 1

3.2   Pembahasan

Waktu pengaturan tanam yang serempak merupakan prioritas pertama pengendalian wereng, karena secara efektif menekan populasi wereng melalui pemutusan rantai makan. Wereng coklat yang bermigrasi ( yang bersayap panjang ), biasanya mencari tanaman muda didekatnya bila tanaman padi di tempat asal mendekati pembungaan. Penggunaan insektisida hanya digunakan bila jumlah wereng melewati ambang ekonomis per rumpunnya. Penyemprotan pun tidak bisa dilakukan pukul rata pada semua areal yang luas (Blanket spray), tetapi per lokasi serangan. Hal ini selain dapat mencegah matinya musuh alami yang sebenarnya cukup efektif memangsa wereng coklat, tetapi juga mencegah munculnya resurjensi dan resistensi wereng coklat tersebut.

Pada Blanket spray, musuh alami mati tapi telur dan nimfa wereng tidak mati, lalu mereka tumbuh subur karena tidak ada saingannya. Pada penyemprotan per lokasi, wereng di lokasi penyemprotan saja yang mati dan apabila cara penyemprotannya benar, telur dan nimfanya pun akan mati, sehingga kemungkinan resistensi yang menjurus timbulnya biotipe baru, bisa dicegah. Hal ini karena wereng di luar lokasi penyemprotan berinteraksi melalui perkawinan dengan wereng di lokasi penyemprotan sehingga resistensi wereng coklat tersebut terhadap insektisida dan varietas padi yang ditanam tetap rendah.

Dari hasil percobaan yang di dapat tingkat populasi hama wereng coklat pada varietas Membramo terdapat 14 ekor dan mati 3 ekor dengan kerusakan tanaman menjadi kering, daun mengecil dan daun menggulung, sedangkan pada varietas PELITA terdapat 20 ekor dan mati 5 ekor dengan tingkat kerusakan tanaman mengering sebagian dan yang terakhir pada varietas IR64 tidak ada satu wereng pun yang hidup, semua wereng mati pada minggu kedua. Dari semua hasil yang di dapat, varietas Membramo mengalami tingkat kerusakan yang parah dan mengalami tingkat populasi wereng yang tinggi, kemungkinan besar varietas Membramo merupakan tanaman padi yang rentan terhadap serangan hama, tetapi kemungkinan juga tidak karena data yang kami dapat belum cukup akurat karena pada varietas IR64 tidak terjadi kerusakan karena wereng mati semua, karena mungkin terjadinya kesalahan dan kecerobohan praktikan dalam percobaan resistensi tanaman tersebut.

BAB IV

KESIMPULAN

Tindakan pencegahan yang hanya mengandalkan sepenuhnya pada pengendalian wereng pada penanaman varietas tahan saja, ternyata tidak mencegah eksplosi serangan. Harus diikuti tindakan lain, seperti pergiliran antar varietas dan antar tanaman. Sedangkan penggunaan insektisida, hanya dibatasi pada saat diperlukan, tapi bukan untuk pencegahan. Varietas padi yang tahan saat ini baru mampu dibuat dari satu gen resisten saja, tetapi tidak bisa bertahan lama karena sifat wereng yang hanya makan padi dengan keragaman genetik yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

J. Bawolye .2006. Pengendalian Padi Pada Pengendalian wereng Coklat (Nilaparvata Lugens); Camboja-IRR-Australia Project.